Indonesia vs Malaysia: Stop berantem!


Beberapa pekan terakhir ini cuaca di tanah air agak ‘gerah’ oleh ‘ulah’ jiran kita
Malaysia. lagu ‘rasa sayange’ dan ‘penangkapan istri atdikbud RI’ di Malaysia menjadi headline yang sensi dan tendensi. Pemerintah & rakyat Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa, karena sibuk ‘berantem’ sendiri di kancah politik yang penuh intrik & licik, saling bunuh karakter antar pejabat dan politikus bak ‘game online’ di warnet-warnet, bahkan di bulan Ramadhan sekalipun.

Tidak hanya berantem, kita juga ‘masih’ membiarkan dan bahkan membiasakan tradisi ‘korupsi’ hingga tumbuh subur di bumi yang sudah tidak lagi gemah ripah loh jinawi ini..

Kembali ke jiran kita, Malaysia sangat tahu bahwa tidak ada yang bakal berani menyerang apalagi mengganyang mereka karena ‘PRT’ dan ‘Buruh’ migran asal Indonesia di sana begitu banyak dan dapat saja dijadikan ‘tameng hidup’ dalam situasi darurat perang. Bahkan bisa jadi mereka lebih loyal kepada warga dan negara Malaysia yang ‘menghidupi’ mereka ketimbang pemerintah Indonesia.

Perampasan Ambalat, ‘pengkaratean’ pelatih Karate oleh Polis Diraja Malaysia, penyiksaan TKW, pemukulan TKI, dan penolakan kunjungan anggota DPR-RI ke kilang lokasi TKI bekerja cukup ditutup dengan satu kata diplomatis ‘maaf’ dan kita lagi-lagi tidak berdaya.

Malaysia juga tahu kita hanya jago di kandang, karenanya Proton, Petronas, Astro, dan XL dapat leluasa mengibarkan bendera Malaysia disini secara ekspansif.

Dimana harga diri kita? Apakah masih ada harga diri di tengah-tengah supremasi ‘korupsi’ yang tak kunjung henti? Apakah masih bisa kita tegakkan kepala sebagai bangsa besar dengan kemiskinan dan kebodohan yang tak kunjung terentaskan?

Sebagai anggota ‘persemakmuran’ Inggris Raya tentunya Malaysia tahu persis peta geopolitik dan geointelejen. Ikatan batin dan emosi diantara anggota persemakmuran memungkinkan Malaysia ‘berani’, bahkan ‘berani’ kepada seteru USA yang jelas-jelas sekutu Inggris. Jadi tidak usah heran jika Malaysia juga berani kepada Singapore & Indonesia yang serumpun.

Awal 2005 lalu saya bertemu Cikgu (Guru) asal Malaysia yang bersahaja di Bandar Seri Begawan (Brunei), tahukah Anda.. cindera mata apa yang saya terima? Replika menara kembar Petronas! Ya, simbol ‘dignity’ Malaysia. Apa maknanya? Patriotisme itu mereka bawa dan banggakan kemana-mana

Rabu 10 Oktober 2007 kemarin, sekali lagi Malaysia menunjukkan supremasi intelektual-nya dengan mengangkasa-luarkan Sheikh Muszaphar Shukor (34 tahun, seorang dokter dan model paruh waktu) sebagai astronot melayu pertama bersama astronot wanita USA dan kosmonot Rusia dengan wahana Soyuz menuju Stasiun Angkasa Internasional (ISS).

Cita-cita Dr M (baca Malaysia) dengan slogan ‘Malaysia Boleh!’ telah terbukti sukses, bagaimana dengan Indonesia? ‘Indonesia Bisa!??’ tentu ini akan disambut geli oleh jiran Malaysia, Brunei Darussalam & Singapore.. Karena ‘bisa’ dalam bahasa melayu berarti ‘racun nan mematikan’ 🙂

Jiran (tetangga) sesungguhnya adalah saudara/kerabat terdekat kita dibanding saudara kandung kita nun jauh di kampung halaman, jiran siap bergotong-royong dan meminjamkan properti kala kita mendapat suka cita atau tertimpa duka cita, sesekali kita perlu sabar menghadapi jiran yang usil, siapa tahu ada hikmah dibalik masalah klasik itu.

Mau sukses & kuat? Yuk! stop berantem, stop korupsi-kolusi-nepotisme, stop pembiaran kemalasan, kebodohan & kemiskinan..

Tetap semangat!

This entry was published on Senin, 29 Oktober 2007 at 11:47 am and is filed under Jurnal. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: