Ada ular menyelinap di dapur


Minggu, 10 Februari 2008 jam 07.00 WIB kentongan besi ditalu Pak Yit

Pagi itu aku dengan membawa sebilah arit yang sebelumnya telah kuasah dan bergegas ke lapangan volley untuk memulai kerja bhakti ‘menyiangi’ rumput yang meninggi di tengah dan sisi-sisi lapangan akibat curah hujan yang cukup tinggi di Malang akhir-akhir ini.
Beberapa menit setelah aku dan Pak Yit ‘merumput’ berdatanganlah warga dan pemuda susul-menyusul untuk aktifitas yang sama dengan membawa arit dan pacul. Beberapa ibu kemudian mengirim air putih, air sari buah kemasan, dan roti.

Sekitar jam 09.00 WIB sesaat setelah memindahkan Pos Kamling, Salsa dan Datin berlari memanggil dan menghampiriku di ujung Timur jalan Wijayakusuma..

Aku berlari kecil mendekat…mereka melaporkan bahwa ada seekor ular kobra menyelinap ke dapur rumah kami, ular jenis ini memang sering menyelinap melalui sela-sela pintu atau lubang limbah rumah yang berbatasan dengan lahan eks rel mati kereta api PT Leces Probolinggo yang memang ditumbuhi alang-alang setinggi pinggang dan tak terurus.. mungkin disitulah sejumlah ular kobra bersarang..
Sudah seringkali ular menyelinap ke dalam dapur, ini kali kedua yang langsung kuhadapi dari 7 kali yang ditemukan..

Kuambil alih penebah dan sapulidi yang digenggam istriku untuk mengusir atau menghabisi ular tersebut..

Kupandangi ular yang panjangnya sekitar 36 cm itu dengan tenang..
Kuamati pada jarak aman dan kupastikan ular itu tidak menyemburkan bisa ketika posisi kepalanya tegak..
Lalu penebah kutekan ke ekor ular yang kini menggeliat di bibir pintu belakang..
Dengan membaca ‘basmalah’ secepat kilat kupukul kepala ular itu dengan sapu lidi..
Kusebut ‘takbir’ sebanyak 7 pukulan sapu lidi ke sekujur kepala dan badan ular
Harapanku ular itu akan pingsan.. karena aku tidak berniat untuk membunuhnya..
Benar! Ular kobra itu kini menggelepar dan kemudian pingsan..
Dengan penebah kulempar ular pingsan itu ke halaman belakang
Kemudian dengan sepotong dahan bercabang kuangkat, kubawa dan kubuang ular tersebut ke anak sungai di tepi jalan raya Kebonagung..
Kutarik nafas panjang… seraya bersyukur (alhamdulillah) karena tiada yang terluka
Setelah itu aku kembali lagi bekerja bhakti dan mengakhirinya dengan makan pecel bersama-sama warga..

Pelajaran pagi ini: jangan panik, selesaikan (hadapi) dengan tenang dan penuh perhitungan 🙂

Iklan
This entry was published on Selasa, 12 Februari 2008 at 8:50 pm and is filed under Jurnal. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: