Ayat-ayat Cinta itu..

Ayat-ayat Cinta


Senin malam Selasa, 18 Februari 2008, jam 20.55 malam
Setelah sholat Isya di musholla Gedung C Lantai 7, bergegas aku ke lift untuk turun cepat ke Lantai 1.
Sial, gerbang belakang yang menjadi akses ke Plaza Senayan telah ditutup, ditengah gerimis hujan.. kulompati saja pintu gerbang itu..

Malam itu lantai Plaza Senayan XXI telah disesaki calon penonton yang hendak menyaksikan tayangan perdana film “Ayat-ayat Cinta” bersama beberapa aktor dan aktris pemerannya.. Sejumlah artis dan undangan lain berbaur di lounge Plaza Senayan XXI. Sejumlah gadis yang didandani cantik berjilbab dan bercadar ala Aisha hilir-mudik, sesekali menawarkan cadar kepada penonton wanita berjilbab, dengan harapan dibeli dan dipakai selama atau setelah menyaksikan film Ayat-ayat Cinta nanti..

Aku memegang tiket Studio 2 kursi C18 yang telah kubeli Kamis tanggal 14 Februari 2008 yang lalu.. Setelah kubeli sepotong Pizza dan Ice Lemon Tea, buru-buru saja aku menuju dan masuk ke Studio 2 dan mencari kursiku di baris C nomor 18, theme song ‘Ayat-ayat Cinta’ yang dilantunkan Rossa terus-menerus mensyahdukan suasana studio yang dingin dan rinai hujan di luar sana..

Beberapa menit kemudian dari sudut kanan tampak serombongan penonton memasuki studio, oh… rupanya penonton istimewa 🙂 keluarga sang produser dan beberapa pemeran film Ayat-ayat Cinta mendampingi dan mengantarkan Bang Din Syamsudin (Ketua PP Muhammadiyah) dan Bung Adhyaksa Dault (Menpora) duduk di baris E tengah (tentunya lokasi paling strategis untuk menyaksikan sebuah film di dalam studio). Persis disamping kananku duduk H. Elroy Usman di kursi C17, artis inilah yang nanti akan berperan sebagai Pengacara bagi Fahri atas permintaan Aisha.

Tepat pukul 21.25 film Ayat-ayat Cinta dimulai…
Cerita mengalir seperti madah yang tersusun indah di halaman novel ‘Ayat-ayat Cinta’-nya Habiburrahman El Shirazy.. seperti di dalam novelnya, film ini juga memberi ruang subtitel (pengganti foot-note) ketika ada dialog dalam bahasa Arab, Inggris atau Jerman.

Aku mencoba larut dalam ketokohan Fahri yang saleh dan akhirnya harus didera kenyataan hidup dan kesaksian cinta kasih yang rumit antara Maria Girgis, Nurul binti Ja’far Abdur Razaq, Noura binti Bahadur, dan Aisha..

Setelah ” Bab 20 Ikatan Suci” dan “Bab 21 Kecupan Pertama” antara Fahri dan Aisha berlalu, beberapa penonton wanita tampak tersedu sedan menahan haru dan sedih tatkala menyaksikan kemasygulan Maria dan kepatah-hatian Nurul yang akhirnya harus menerima kenyataan pahit ‘cinta’ mereka yang kandas di padang pasir sahara.. tidak hanya bertepuk sebelah tangan, tetapi kehilangan cahaya ditengah terik siang hari..

Kukatakan tadi, aku mencoba lebur ke dalam jiwa Fahri sang suami yang saleh..
Saat Nurul bersikukuh untuk menjadi istri bagi suami Aisha

Saat hukuman mati mengancam Fahri atas ‘dakwaan’ sarat fitnah memperkosa Noura..
Saat Aisha ‘meminta’ Fahri untuk menikahi Maria yang tengah koma karena didera depresi kehilangan cinta Fahri
demi kesaksian untuk menyelamatkan suami Aisha dari hukuman mati..
dan demi masa depan buah cinta Fahri dan Aisha..
Saat…
Aisha menyerahkan cincin kawinnya kepada Fahri untuk mahar pernikahan suaminya dengan Maria yang diridhainya..

di saat itulah… mataku berkaca…ada keharuan yang tidak dapat kutuliskan dengan kata-kata

Aisha adalah tesis sejati…bahwa setiap wanita hanya memiliki satu hati untuk satu cinta..

satu cinta yang dapat menelan semua keindahan bumi dan jagat raya..

meskipun akhirnya ia harus rela berqurban dengan cara termulia..


Sesungguhnya syurga itu ada disini..

dimana Aisha-aisha menyadari..

bahwa tak ada cinta yang lain..

Tak terasa 117 menit telah berlalu…
Film Ayat-ayat Cinta dipungkas dramatis dengan kematian Maria saat sholat sambil berbaring berjama’ah bersama Fahri dan Aisha..

Pintu keluar studio telah dibuka..
Aku bergegas keluar dengan hati berdegup di kegelapan malam yang basah diharu biru rinai hujan

berharap dapat bertemu Aisha yang saleha dan mulia itu..

malam ini Jakarta diguyur hujan lagi..
aku sudah berbaring di tempat tidur..

namun belum juga dapat kupejamkan mata ini

aku mulai merindui sosok Aisha..

sayang, engkaukah Aisha-ku?

yang ikhlas dicinta dan mencintai..

atas nama Allah..


Salemba, 19 Februari 2009
| 02:13 WIB

Salam takzin untuk akhina,
Habiburrahman El Shirazy

This entry was published on Selasa, 19 Februari 2008 at 9:27 am and is filed under Jurnal. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Ayat-ayat Cinta itu..

  1. wah udah mulai ya.. besok nyoba nyari info ah yg di Malang diputer dimana ya? ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: