Laskar Pelangi-ku di Bali

Sabtu pagi 18 Oktober 2008 ini langit Bali begitu cerah dan temperatur di udara terbuka perlahan naik hingga titik 34 derajat C.

[09.00 WITa]
Sesuai appointment via SMS, Yuswanto – sahabat kecilku semasa bersekolah di TK Aisiyah 1 hingga SD Muhammadiyah 1 Denpasar – telah berada di Lobby Hotel Puri Ayu, kupercepat breakfast untuk segera menemuinya di lobby.
Sudah 2 tahun terakhir ini kami tidak bertemu, terakhir bertemu masih di formasi ‘eselon 3’ di Coca-Cola Indonesia Bali sebagai penanggung jawab Warehouse CC Kuta. Kemudian sejak ‘pensiun dini’ dari CCI, Yus banting setir merintis bisnis percetakan digital, periklanan luar ruang, dan lain-lain sebagai pemilik sekaligus pemasar.

Hari ini aku ada janji untuk mentraktir keponakan, mbak, dan adikku di Denpasar untuk nonton film “Laskar Pelangi” di Galeria 21 Kuta, kutawarkan kepada Yus: apakah berkenan untuk turut serta dalam rombongan keluargaku?
Setelah berdiskusi dengan anak dan istrinya via ponsel, akhirnya Yus setuju mengajak istri dan seorang anaknya untuk bergabung bersama keponakan dan saudara-saudaraku.

[09.30 WITa]
Kami meluncur ke Galeria 21..
Dalam perjalanan menuju Galeria 21 Yus sempat bertutur pentingnya sebuah ‘batas-batas’ atau wilayah ‘tanggung jawab’ sebagai kanak-kanak maupun dewasa, kenakalan-kenalan apapun jika masih dalam ‘batas-batas’ yang tidak merugikan apalagi membahayakan orang lain dan juga diri sendiri dapatlah dimaklumi, batas-batas itu ‘iman’ namanya..

[10.15 WITa]
Kami tiba di Galeria 21 yang terletak di belakang Duty Free Shoppers (DFS) yang bertetangga dengan Planet Holywood Kuta. Terbaca pengumuman di pintu, bahwa tiket baru akan dijual pada pukul 13.00 WITa dan pertunjukan pertama untuk pukul 13.45 telah di-block oleh salah satu perguruan tinggi di Bali.

[10.45 WITa]
Kami putuskan untuk meninggalkan Galeria 21daripada nanti jenuh menunggu dibukanya ticket box dan langsung menuju Pantai Kuta untuk melihat-lihat suasana persiapan Kuta Festival 2008 yang akan dibuka tepat pukul 13.00 WITa di tepi Pantai Kuta. Hm.. tak ada yang berubah sejak 2 tahun terakhir, tetap dihiruk-pikuki oleh dominasi backpacker asal Australia dan Jepang.

[11.30 WITa]
Merasa cukup ‘dijemur’ di Pantai Kuta, kami kembali menuju Galeria 21 untuk antri tiket film “Laskar Pelangi”..

[11.55 WITa]
Tiba di Galeria 21, kupersilakan Yus untuk melanjutkan perjalanan untuk memenuhi janji meeting dengan rekannya di Pedungan pukul 12.00 dan mengantar anak-istrinya dari Green Kori ke Galeria 21 pukul 14.30 WITa.
Dengan langkah optimis aku menuju loket penjualan tiket… ups! Sudah 8 orang antri di depan loket yang yang tak bertuan itu sejak pukul 11.45, padahal loket baru akan dibuka pukul 13.00 WITa!!
Aku berdiri di antrian ke-9, sesekali kuisi waktu dengan SMS dan menelepon adikku dan keponakanku untuk koordinasi penjemputan mereka di Perumahan Dalung Permai dan Taman Sekar Padangsambian kemudian ke Galeria 21 Kuta.

[12.30 WITa]
Kulihat 30-an orang telah mengekori antrianku, sebagian pengantri berada di pintu masuk Galeria 21.. badanku mulai bersimbah peluh..

[12.40 WITa]
Barisan dipecah menjadi 2 lajur, lajur kiri untuk pembeli tiket yang membayar tunai (Cash Only) dan lajur kanan untuk yang membayar tunai atau dengan kartu kredit (Cash & Card). Aha… aku langsung berpindah ke lajur kiri, kini aku berada diantrian ke-5 🙂 dibelakangku masih ada 20-an pengantri mengekori..
Agar tidak terlalu jenuh menunggu, kubuka konversasi dengan 2 pengantri di depanku..
Dari mbak pengantri nomor 3 kuterima informasi bahwa novel Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata konon akan di-launching pada acara 2008 Ubud Writers & Readers Festival 14-19 Oktober 2008 dan ibu pengantri ke-4 (kebetulan baru memiliki bayi lelaki) kudapati informasi tentang betapa pentingnya kehadiran anak-anak lelaki di dalam sebuah krama Bali, anak lelaki memang pewaris keluarga yang diharapkan dapat melanjutkan tradisi dan mengelola harta waris keluarga.

[13.00 WITa]
Tirai loket tiket Galeria 21 dibuka, para pengantri kini bersemangat kembali seolah lupa telah berdiri selama 75 menit!
Film “Laskar Pelangi” ini sungguh fenomenal… meskipun film ini ‘bernuansa’ islami, namun penonton di Galeria 21 ini boleh jadi sangat majemuk, diantrian tadi saja kutemukan beberapa keluarga Hindu, beberapa mahasiswi Kristen aktifis kampus, dan beberapa keluarga keturunan Cina di lajur kanan.

[13.15 WITa]
Kubeli 10 tiket di baris G kursi 11-20 untuk pertunjukkan pukul 16.00 WITa.
Alhamdulillah.. 10 tiket sudah ditangan, langsung saja kupanggil Bali Taxi..
Taxi meluncur cepat ke arah Denpasar..

[14.00 WITa]
Tiba di Hotel Puri Ayu..
Dari Hotel Puri Ayu, aku melesat ke SD Muhammadiyah 1 Denpasar (almamaterku)..

[14.20 WITa]
kami tiba di SD Muhammadiyah 1 Denpasar, tiada lagi kulihat nama-nama guruku di daftar nama guru, tampaknya mereka semua sudah menghadap Sang Khaliq bersama amal jariyah masing-masing..
Sebagai tali asih, kuberikan DVD BSE kepada TU SD Muhammadiyah 1 Denpasar serta alamatku, dengan harapan dapat terjalin kembali silaturrahmi antara aku dan almamaterku.
Setelah itu kami menuju ke Dalung Permai untuk menjemput Gery, Uwi, Nada, dan Farel (keponakan), Dik Lona dan Mbak Terta.

[14.50 WITa]
Kami tiba di Dalung Permai, artinya ada waktu untuk lunch dan sholat di Dalung.

[15.00 WITa]
Kami meluncur ke Galeria 21 via Padangsambian untuk jemput Nada (keponakan). Sepanjang jalan kami berdebar dan berharap tidak terlambat sampai di Galeria 21. Kukontak Dik Eppy untuk menemui Yus sekeluarga di Lobby Galeria 21.

[15.50 WITa]
Alhamdulillah… rombongan “Laskar Dalung” tiba di Galeria 21 🙂

[16.00 WITa]
Keluargaku dan keluarga Yus memasuki Studio 2, berbekal sejumlah Popcorn dan Minuman Dingin untuk anak-anak “Laskar Dalung” selama menonton “Laskar Pelangi” 😀

[16.00-18.00 WITa]
Sepanjang pemutaran film, aku dan Yus saling mengenang kenakalan dan kejenakaan kami selama di sekolah. Sesekali kami mematut-matutkan anggota “Laskar Pelangi” dengan kawan-kawan kami dulu, Nanang Udayana dipatutkan dengan Samson, Abdul Rajab sekucal Kucai, Nanang Hari Wahyudi selucu Harun, Cahyo sesipit A Kiong, NI secantik Aling, dan… kami pun tertawa saat menebak siapa gerangan yang mendapat kehormatan sepatut Ikal, Lintang ataukah Mahar, Yus kupaksa patutkan dengan Mahar, ending-nya kan boleh jadi dukun alias balian ha ha ha..

Pada kesempatan kedua menonton film “Laskar Pelangi” ini kusempatkan mencatat ulang pesan Pak Harfan:
“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”

Pesan ini mengingatkanku pada pelajaran Ke-Muhammadiyah-an sewaktu SD dulu: “Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, namun janganlah mencari peng-hidup-an di Muhammadiyah”.

[18.00 WITa]
pertunjukan berakhir..
“Laskar Dalung” pulang dengan berkendara taxi, sementara aku memenuhi ajakan Yus sekeluarga untuk mengantarkanku ke Hotel Puri Ayu dengan kendaraan pribadinya.
Sepanjang jalan menuju Hotel Puri Ayu, aku dikenangkan kembali tentang “A Ling” sang primadona-nya siswa kelas V, teringat betapa kami harus susah-payah mengayuh sepeda sejauh 8-9 km dari rumah (di siang hari) hanya untuk melihat rumah NI, sambil menunggu keajaiban siapa tahu NI mau melihat kami. Kami disini berarti aku, Yus dan belakangan Budi Setyono juga ikutan kesengsem mojang Indramayu itu..
hm.. banyak banget nih rival-nya 🙂
Yus membuatku terpaksa mengangguk lagi ketika tersindir bahwa dulu kerutinanku sholat dzuhur di musholla sekolah lantaran NI juga sholat dzuhur disitu ‘kan? Waduh duh.. kebuka nih kartu As-ku 😀 tetapi nggak semua dzuhur-ku begitu lho..

[18.45 WITa]
Kami tiba di Hotel Puri Ayu, aku sangat berterima kasih kepada Yus sekeluarga yang telah meluangkan waktu seharian ini bersamaku dan keluargaku, persahabatan sejati memang tak boleh lekang oleh zaman yang berubah..

::

mimpi adalah kunci
kenyataan adalah pintu
menuju kamar-kamar karma
kita sendiri..

::

Bandara Ngurah Rai, 19 Oktober 2008

This entry was published on Minggu, 19 Oktober 2008 at 9:01 pm. It’s filed under Jurnal and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “Laskar Pelangi-ku di Bali

  1. runut sekali ceritanya.. dan menyenangkan yaa.. semua tentang LP memang menginspirasi..

  2. wah orang bali juga rupanya, sy jawa tp lama tinggal di bali.
    laskar pelangi emang bener2 menginspirasi seuruh rakyat.
    sukses dng program2 mencerdaskan anak bangsa.
    “hidup-hidupkanlah pendidikan untuk bngsa asla jangan cari penghidupan dari mendidik, jangan jadikan pendidikan sebagai ajang bisnis”

    he…he..he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: